Sbypresidenku.com – Penyebab Kejang yang Beragam, Termasuk Epilepsi dan Tumor
Banyak Unsur yang Menyebabkan Kejang
Kejang adalah kondisi yang bisa dialami siapa saja dan disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut para pakar medis, kejang bukan hanya disebabkan oleh epilepsi, namun juga mampu dikarenakan kondisi medis lainnya seperti tumor otak, gangguan metabolisme, infeksi, dan cedera kepala. Seorang dokter spesialis saraf menjelaskan bahwa diagnosis yang tepat sangat krusial agar pasien mendapatkan penanganan yang sinkron dengan penyebab kejang yang mendasari.
Dr. Andri, seorang spesialis saraf, menjelaskan bahwa kejang terjadi dampak aktivitas listrik abnormal di otak. “Kejang bisa disebabkan oleh berbagai hal, tergantung dari kondisi yang mendasarinya. Epilepsi memang menjadi salah satu penyebab primer, tetapi bukan satu-satunya,” katanya. Selain epilepsi, ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, gula darah yang terlalu bawah (hipoglikemia), serta infeksi seperti meningitis juga dapat memicu kejang.
Selain itu, kejang juga mampu berkaitan dengan kondisi psikologis seperti stres berlebihan atau agresi panik. Meskipun tak secara langsung disebabkan oleh gangguan saraf, tekanan emosional yang tinggi bisa memicu reaksi tubuh yang menyerupai kejang. Para ahli menekankan bahwa pemahaman mengenai penyebab kejang sangat krusial agar masyarakat tak langsung mengaitkan kondisi ini dengan epilepsi semata.
Penanganan yang Tepat Berdasarkan Penyebabnya
Ketika seseorang mengalami kejang, cara pertama yang harus dilakukan adalah memastikan pasien berada dalam posisi aman. Dokter menyarankan agar penderita kejang jangan langsung ditahan atau diberikan benda di dalam mulutnya, sebab tindakan tersebut malah bisa membahayakan pasien. “Hal terbaik yang mampu dilakukan adalah memastikan pasien tidak berada dalam posisi berbahaya, miringkan tubuhnya agar tak tersedak, dan pastikan jalur napasnya masih terbuka,” ujar dokter spesialis tersebut.
Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit atau terjadi berulang, maka pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan buat mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pemeriksaan lanjutan seperti elektroensefalografi (EEG) atau pencitraan otak seperti MRI dan CT scan sering kali diperlukan buat mengetahui apakah ada kelainan struktural yang menjadi penyebab kejang. Dengan penaksiran yang pas, dokter dapat memberikan terapi yang sesuai, baik berupa obat anti-kejang, terapi hormon, maupun tindakan bedah jika ditemukan adanya tumor sebagai penyebab kejang.
Krusial bagi masyarakat untuk memahami bahwa kejang adalah kondisi medis yang kompleks dan tidak selalu berhubungan dengan epilepsi. Banyak kondisi lain yang dapat menyebabkan kejang, sehingga penting bagi pasien buat mendapatkan inspeksi yang tepat agar mampu ditangani dengan cara yang sinkron.